Beranda » Lontarak Pabbura, Metode Pengobatan Orang Bugis

Lontarak Pabbura, Metode Pengobatan Orang Bugis

by Redaksi
A+A-
Reset

Setiap kelompok masyarakat dalam setiap masa telah dibekali oleh Allah Subhanawata’ala dengan naluri dan kemampuan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Tujuannya jelas, agar masyarakat itu dapat melanjutkan generasinya. Setiap tantangan yang muncul akan selalu menghadirkan problem solving.

Sebagai contoh, dalam sebuah kelompok masyarakat atau bahkan individu sekalipun akan selalu mencari jalan untuk memenuhi kebutuhan makanannya. Rumusnya sederhana, karena lapar maka yaa harus makan.

Hal itu juga serupa dengan jika ada yang sakit. Individu atau kelompok masyarakat pasti akan mencari jalan kesembuhan dengan berbagai cara, baik yang sifatnya suprarasinoal maupun yang rasional. Ini tak terkecuali bagi masyarakat di Sulawesi Selatan. Dalam tradisi pengobatan masyarakat Bugis, dikenal sebuah tradisi pengobatan yang dituliskan dalam sebuah naskah Lontarak yang disebut Lontarak Pabbura.

Naskah Lontarak Pabbura Bone adalah sebuah karya hasil riset Prof. Abu Hamid dan tim yang merupakan bagian dari proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selatan (La Galigo) tahun 1986/1987. 

Mereka mengumpulkan naskah naskah Lontarak yang berisi tentang pengobatan di dua daerah, Bone dan Wajo. Naskah Lontarak tersebut di tuliskan ulang kemudian di transliterasikan lalu diterjemahkan. Hasil risetnya kemudian di cetak dan publikasikan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selatan La Galigo 1986/1987.

Lontarak Pabbura Bone berisikan 45 pasal tentang pengobatan. Ada yang berisi tentang jenis obat untuk penyakit tertentu, ada yang tentang metode pengobatan penyakit tertentu.

Pannessaenngi pabburana Pannessaenngi pabburananarekko mpennoi timue. Lennga rigore gangka magorena, naricampuruk minya kaluku, nainappa risapuiyang

Artinya : Hal yang menjelaskan jika mulut sariawan. Wijen disangrai (digoreng tanpa minyak) sampai matang, kemudian dicampur dengan minyak kelapa lalu disapukan.

Belum ada sumber yang jelas kapan lontarak pabbura itu ditulis, apakah 45 pasal ditulis dalam satu waktu oleh orang yang sama atau ditulis oleh orang yang berbeda. Ini tentu akan menjadi tantangan besar untuk para peneliti, akademisi, praktisi untuk mengungkapkan satu puzzle demi puzzle yang lainnya.

Penulis: dr. Syukri Mawardi

You may also like

Leave a Comment