Sekitar awal tahun 2000-an, masyarakat Indonesia gempar dengan isu vaksinasi. Kelompok antivaksin “unjuk gigi” dengan menyajikan data-data hingga menulislah dalam artikel dan buku. Tujuannya jelas, menyadarakan masyarakat akan bahaya vaksinasi.
Pemerintah sebagai leader pelaksana program imunisasi juga tidak tinggal diam. Bersama para akademisi, tokoh masyarakat, tokoh agama melakukan “counter attack” terhadap isu yang digulirkan oleh kelompok antivaksin juga dengan menyajikan data-data dalam banyak artikel dan buku. Tujuannya jelas, menyadarkan masyarakat tentang manfaat imunisasi/vaksinasi.
Ada dua cara untuk mendapatkan kekebalan terhadap kuman. Pertama dengan terinfeksi alami seperti yang terjadi selama ini jika kita sedang terinfeksi kuman (baik bakteri maupun virus), atau cara yang kedua adalah dengan infeksi buatan yaitu dengan cara sengaja memasukkan bagian kuman kedalam tubuh dengan kadar tertentu. Cara kedua inilah yang disebut dengan vaksinasi.
Vaksinasi di Indonesia bukanlah barang baru, bahkan jauh sebelum kemerdekaan program vaksinasi telah berjalan di wilayah-wilayah kepulauan Nusantara (Indie). Program vaksinasi saat itu di jalankan oleh pemerintah kolonial.
Di kepulauan nusantara, vaksin cacar tiba di Batavia pada Juni 1804. Bahan vaksinnya tidak dibuat di Nusantara tapi dikirim dari sebuah pulau koloni Prancis di Samudera Hindia, Isle de France. Jan Kloprogoe-lah (kepala Chirurgijen di Buiten Hospital di Batavia) yang berinisiatif untuk menjemput vaksin cacar dari pulau Isle De France dan membawanya kembali ke Batavia.
Dengan bantuan hapal Harmonie vaksin cacar akan ditransport ke negeri timur yang jauh. sebagai media menumbuhkan vaksin maka dibawalah 9 anak Jawa dan 6 anak budak berusia belia yang akan diinokulasikan (diinfeksikan) dari satu anak ke anak yang lain agar vaksinnya tetap aktif selama dalam perjalanan kembali ke Batavia.
Setelah sampai di pulau Isle de France, De Caen pemimpin tertinggi pemerintah kolonial di pulau itu mengganti kapan Harmonie dengan kapal Elisabet untuk mengantar vaksin aktif cacar ke Batavia. Akhirnya pada Juni 1804 vaksin pertama mendarat di Batavia dan memulai agenda panjang vaksinasi yang berlangsung hingga hari ini.
Oleh karena itu, jika menyadari kepingan sejarah ini, kita akan semakin mengerti bahwa program vaksinasi bukanlah agenda baru. Dia telah lama diketahui dan menyatu bersama masyarakat di kepulauan Nusantara.
Lalu, bagaimana program vaksinasi berjalan selama masa kolonial? Kita kupas pada pembahasan selanjutnya..
Referensi
1. Loedin A.A.2010. Sejarah Kedokteran di Bumi Indonesia. Jakarta; Grafiti
2. Hakim S,dkk.2015. Imunisasi: Lumpuhkan Generasi? Menjawab Tuduhan Ummu Salamah. Jogyakarta; Pustaka Muslim.
Penulis: dr. Syukri Mawardi